Kamis, 02 Oktober 2008

Belajar dari Daendels

Belajar dari Daendels

Ekspedisi Anjer-Panaroekan dalam memperingati 200 tahun jalan sepanjang kurang lebih 1000 km karya Daendels dapat menjadi satu pijakan penting bagi kehidupan bangsa Indonesia. Darisana kita bisa belajar dan memahami berbagai hal penting yang tersirat dari perjalanan ini. Mulai dari segi sejarah, ekonomi, tata ruang sampai dengan visi yang diperlukan dari seorang pemimpin.
Usaha pembangunan jalan oleh Daendels ini adalah suatu karya spektakuler pada masanya. Menghubungkan ujung barat sampai titik penting di wilayah timur pulau Jawa tentu saja diperlukan pengorbanan tak terhingga, baik harta, benda dan nyawa, untuk mewujudkannya. Arti penting pulau Jawa dalam konstelasi politik waktu itu membuatnya menjadi penting untuk diperebutkan.
Oleh karenanya Daendels melakukan apa saja untuk mewujudkan keinginannya. Pada titik inilah tercatat sebuah noda hitam penjajahan yang memakan ratusan ribu rakyat Indonesia tak berdosa untuk mengerjakan proyek ini. Inilah pembunuhan massal terbesar yang pernah dilakukan di Indonesia. Jalan ini berlumuran darah rakyat.
Pun demikian, arti penting jalan ini tak bisa dilupakan. Deandels menentukan rute kota yang dilalui jalan ini, bukan tanpa pertimbangan. Disertai analisa tata ruang yang mempertimbangkan kondisi geografis yang dilengkapi ide, cita-cita dan visi seorang pemimpin atas tanah yang dipimpinnya, Deandels-lah yang menciptakan konsep kota-kota wisata (Bogor), kota pendidikan,wisata dan militer (Bandung), kota pelabuhan dan perekonomian sekaligus benteng pengawas (Anyer, Banten, Semarang, Tuban, Surabaya) serta kota industri (berat dan pertanian) di Tangerang, Sumedang, Tegal, Gresik, Sidoarjo, Pasuruan.
Saat ini, selayaknya tempat yang terimbas laju modernitas membabi buta tanpa pertimbangan matang, kota-kota dalam jalur Daendels kebanyakan kini mempunyai peran berbeda dengan yang dibayangkan Daendels 2 abad lalu. Hampir seluruhnya berubah menjadi kota industri yang panas, pengap dan tak tertata. Pun demikian, sarana jalan penghubung tak terawat optimal. Banyak jalur jalan bergelombang, beberapa tempat berlubang dengan lebar tak sebanding dengan banyaknya beban muatan yang melintasinya. Kondisi ini jelas terlihat terutama di jalur Pantura Jateng.
Padahal ide awal Deandels membuat jalan ini adalah untuk memudahkan koordinasi, konsilidasi dan pengawasan daerah. Dengan jalan yang mudah dilalui, informasi cepat, jalur perekonomian berkembang dan oleh karenanya kesejahteraan rakayat daerah coba dicapai. Transportasi memang merupakan sarana mutlak bagi seluruh sendi kehidupan dari dulu, kini sampai entah kapan.
Maka dengan pemahaman semacam ini, kita memang belum dewasa unutuk memahami sesuatu dibalik yang nampak. Penjajahan memang meninggalkan jejak menyakitkan yang tak terhapus. Tapi setidaknya, artefak-artefak yang ditinggalkan, situs-situs yang tersisa dari masa lalu menggguratkan sketsa pemikiran sebuah peradaban. Penjajahan menyiratkan kemajuan yang lebih baik dalam berbagai bidang dari pihak yang dijajah. Termasuk teknologi, ilmu pengetahuan serta logika visioner. Dan kita bisa belajr darinya. Toh memang kenyataannya, jalur jalan yang dulu dirintis untuk menguasai dan mempertahankan Jawa dari serbuan Inggris ini menjadi urat nadi terpenting seluruh sendi kehidupan di pulau Jawa, bahkan Indonesia. Berarti jelas, visi Deandels-lah yang kita pertahankan untuk hidup bangsa ini sekarang.
Seharusnya kita bisa belajar darinya: mempelajari maksud, cara pengelolaan dan visi yang tersirat tapi belum terwujud dari Daendels melalui jalan ini. Sekaligus memberi arti atas pengorbanan ratusan ribu nyawa rakyat yang mengerjakannya. Bukannya dengan cara ngawur dan sembrono kebut-kebutan mempergunakan jalan, tak mempedulikan kepentingan bersama. Melaju cepat di atas genangan darah pengorbanan nenek moyang kita. Tepat, saat kita mencoba mengartikan kemerdekaan yang katanya sudah ada pada diri kita saat ini. Tapi toh?

Dimuat di Harian KOMPAS pada bulan Juli 2008

Asmaradana atawa Babad Banowati

Asmaradana

Mungkin tengah malam. Di luar bulan sabit seolah celurit liar yang siap menghabisi sesiapa yang berani keluar meninggalkan kamar. Bau amis menguar dari mayat perwira dan bangkai kuda-kuda rebah tanpa pelana. Berjuta hantu memburu setiap dendam yang lebam-lebam, antara takhta, kuasa dan saudara. Kali ini, Kurusetra tak menawarkan apa-apa, kecuali prahara Pandawa dan Kurawa. Lalu aku mengingatmu. Apa yang tengah kau lakukan dalam gelap ini, merindukanku?
Kali ini kau di mana? Sendirian di bawah relung atap Astina? Tentu tak ada sesiapa. Duryudana pun ada di tengah kancah prahara ini. Bukan ia tak setia pada janji suami pada istri, Banowati. Tapi kali ini ia harus berhitung atas takhta Astina, sebagai pemimpin Kurawa. Kau tahu, selepas panahku menebas leher Karna, kali ini ia harus berlaku sebagai perwira. Dan kami para lelaki satria telah memutuskan untuk harus berhadapan sebagai musuh, bukan lagi sebagai saudara.
Maka, kali ini aku harus berhitung dengan banyak hal, Banowati. Ketika esok kuhadapi Duryudana di atas pelana, maka aku tak hanya menggambar wajah seorang durjana yang hendak merebut kemerdekaanku, tapi selintas saja, pasti akan terbayang wajahmu, lalu wajah Sarjakusuma: wajah sebuah keluarga yang akan kehilangan orang yang mereka cinta seorang bapak, seorang suami yang mungkin tak terlalu kau cintai. Bila salah satu dari kami mati (itu pasti!), lalu kebahagiaan macam apa yang akan kau dapati Banowati? Harapan yang kosong tak bertepi?
Sementara kau pernah bilang bahwa aku cinta sejatimu. Duryudana hanya sekedar pura-pura agar kau bisa menjadi mata-mata Pandawa di Astina, sebagai bukti cintamu padaku.
Semua akan sangat membingungkan, Banowati. Duryudana sebagai suami tak kau cintai. Sementara aku Arjuna, adalah kijang Dandaka yang mokal kau cekal. Aku adalah sebuah cinta yang bisa didapati di sebuah cerita, tapi tak bisa menetap di sebuah tempat. Tempatku di lontar kenangan perempuan. Justru karena akulah keindahan cinta dunia. Dapatkah seseorang menjelaskan keindahan cinta sebagai sebuah wujud kata benda, Banowati?
Sebagai laki-laki, aku akan melakukan apapun demi kebahagiaanmu, sebagaimana aku bilang aku mencintaimu. Cinta adalah kebahagiaan bagi yang dicinta. Tapi cinta juga bukan berarti memiliki. Pun kalau kau ada di sini Banowati, aku ingin memberi kebahagiaan itu selalu. Untukmu. Maka ketika kau menerima pinangan Duryudana atas nama kesetiaan cintamu padaku, pada Pandawa, lalu aku sadari betapa cinta tak terkata.
Tidak, aku tidak sedang bersajak, tidak sedang menerbangkan kata-kata. Aku cuma takut. Cuma sedang ketakutan. Bahwa kau tak lagi mengenali mimpi-mimpiku. Ia seolah datang dari segeri sebrang, negeri yang tak berbayang. Dan aku tak berkuasa lagi atas mimpi-mimpiku.
Aku cemas bisa kehilangan kau. Aku cemas pada kecemasanku sendiri. Pun tak ada bisa aku katakan. Tidakkah kau cemas?
Untuk kesekian kalinya kuseru namamu. Kuseru jauh dari rasa rindu yang menggugu tertinggal.
Lalu di sinilah aku Banowati. Di tengah padang Kurusetra, terlempar ke sebuah malam tak bernama. Malam yang tak pernah kukenal sebelumnya. Memimpikan Astina yang jaya tanpa prahara, dipimpin raja bijaksana dan para punggawa yang setia menjaga cinta, yang tumbuh dari rahim-rahim tak berdosa. Esok, Banowati, aku ingin mewujudkan itu untukmu. Untukmu cintaku.
Kali ini, digerakkan angin, aku menarikan gugurnya daun-daun. Pada parak pagi esok hari, ketika kau buka jendela, akan kau dapati seikat kembang merah. Dariku, Banowati.
***
Aku tulis surat ini ketika langit kelabu di luar kemah itu entah bermakna apa, aku tak tahu. Yang jelas mimpi-mimpiku belakangan ini tidak terlalu menyenangkan untuk tidak dikatakan buruk atau menyeramkan.
Pertanyaan-pertanyaan bertebaran, tergeletak di atas meja: tak bergerak. Ya, telah kunantikan semacam hening melenting pagi ini atau semacam denting yang nyaring terpantul dari dinding tebing. Setelah tadi malam tak ada datang bahkan bulan atau bintang. Setelah kemarin pagi aku dengar Karna, panglima bala tentara Astina yang jaya telah binasa karena panah Arjuna. Setelah kemarin malam udara berbau dendam. Mimpi-mimpiku jadi lebam-lebam.
Toh aku selalu mengingatmu. Kau yang selalu menembang di pagi hari, dibalik kerai, mengintip keluar jendela, menembus kabut yang likat, kabut yang pupur yang masih mengendap di jalanan, menantikan semacam dering sapa pinggir pagi.
Sempat kuingat tawamu. Riang, saat Sarjakusuma dengan lasaknya mencabuti bunga-bunga rumput dan berteriak “mama, mama…” sehingga sebuah perasaan melengkapkan sebuah sisi ruang kosong sela batinmu. Kau meneleng dan tanpa sadar menjatuhkan beberapa anak rambut ke dahi dan pipimu. Kau tahu, waktu itu aku gemar memandang kedalam bola matamu dan mendapati diriku terkaca di dalamnya. Kau mengirimkan isyarat, semacam bahasa yang kita ciptakan berdua dan sesaat kusadari bahwa betapa lengkap hidupku hari itu.
Tapi toh, kegelisahanku terkaca dalam bulat bola matamu: aku yang lahir di sebuah siang di pinggiran kota yang tenang. Tumbuh dan tumbuh dalam udara yang beraroma kembang, dalam malam-malam berkabut tembang, dan hari-hari yang seolah tak pernah beranjak berlari. Waktu serasa melumut di sini.
Di sepanjang pematang habislah langkah-langkah kecilku dan jika senja datang bersama candikala aku berlari ketakutan menuju pelukan ibuku Gandari. Bidadari-bidadari tengah meniti pelangi, dan ini harus tetap menjadi misteri. Begitulah Banowati, pelan-pelan hidupku menjelma dongeng.
Sampai suatu saat ketika semuanya itu tiba-tiba berubah sengketa. Ketika ternyata ada banyak sesuatu lain di luar sana. Dan aku mendapati diriku sendirian, terlentang di tengah padang perburuan. Hari-hari telah berlari meninggalkan banyak janji.
Semua berujung pada satu pertanyaan: mengapa kami wangsa Bharata, harus saling binasa di Kurusetra?
Aku tak akan menyalahkan ayahku Destarata sebagai kakak yang buta sehingga harus mengalah memberikan mahkota Astina pada adiknya Pandu Dewanata yang lebih sempurna raga. Bagaimana juga mesti membenci Resi Durna dan Eyang Bisma sehingga kami para Kurawa mendapat perhatian yang tak seberapa sehingga sebagai kumpulan manusia liar, kami mencari kasih tulus pada benak yang ternyata penuh onak duri benci Paman Sengkuni.
Kalau memang begitu, kini persetan dengan apa yang bernama kenangan. Ia jahat, buktinya ia telah berkhianat. Lalu untuk apa kesepakatan-kesepakatan itu telah dibuat kalau lantas dibiarkan berkarat. Dan tahukah kau bahwa mimpi kita tengah sekarat. Mimpi-mimpi yang dibangun malam turun-temurun berabad lamanya.
Sang dalang toh juga lebih senang menembang ...surem-surem dewangkara kingkin sebagai lambang prahara kejahatan yang akan melanda dalam cerita ketika menancap wewayangan kami para Kurawa, di kayon simping kiri berhadapan dengan sisi kanan, sisi kebaikan yang diwakili Pandawa!
Maka Banowati, akhirnya kita mesti mengalah, mesti terus melangkah, berkejaran dengan diri kita sendiri dan berputar tak sampai-sampai. Karena akhirnya langit toh hanya satu. Musim tak bisa lebih. Tak banyak lagi yang bisa dikatakan. Sebab kalaupun esok kita memang harus enyah, aku tahu seekor burung akan menyongsong kita dari arah timur laut dan memuntahkan darah. Lalu kembali, hujan akan turun. Amis. Tahukah kau, orang-orang tua kita telah mengenal isyarat itu ketika mereka duduk tegak atas pelana untuk menaklukkan seluruh belantara. Mereka pun sebenarnya tergetar dan berkata ‘begitulah Kau akan mengakhiri kami’. Tapi mereka tetap pergi di bawah langit yang masih saja kelabu. Camar-camar berkejaran terbang dengan paruh gaduh dan terlihat separuh matahari, separuh ufuk yang hitam dari persembahan-persembahan demi kekuasaan.
Lihatlah. Seandainya kau ada di sini, dibingkai jendela merah kemah ini. Seperti gambar. Seperti gambar. Ya, semua telah menjadi sekedar gambar. Dan kali ini aku coba lagi membuka gambar itu. Gambarmu. Gambarku. Gambar Sarjakusuma.
Seandainya semalam bersih saja bulan, enteng dan segar. Seandainya awan sempat berkisar. Seandainya engkau utuh di tubuhku dan bisa kulihat sempurna liukmu di cermin itu dan seluruh angkasa lebih acuh kepada kita, sungguh mimpi akan cukup. Sebab kini hanya tinggal satu soal: bagaimana menunggu, tak ada sesal. Aku lelah Banowati, aku ingin mencium keningmu dalam-dalam.
Sekali lagi aku tak bisa pulang, tak menemu sebuah alasan selain: aku masih mencintaimu! Bagaimana kabar hatimu? Masihkah ia menjadi sebuah tempat yang aman untuk menyimpan kenangan?
***
Arjuna, di taman ini kita pernah berdekapan: kelopak rumpunan mawar di sudut taman itu berjatuhan satu satu. Mengapung dan berpendaran di air kolam. Dua ekor belibis di kolam berkelindan, berenangan di palung. Tapi tak banyak kupu-kupu untuk ditangkap.
Pagi ini hujan turun. Amis. Sama seperti pagi ketika Duryudana duduk tegak atas pelana menuju Kurusetra. Waktu itu, aku ingat, dengan suara bergetar, ia menembang …kariya mukti wong ayu, kakang pamit palastra. Suamiku pamit mati, Arjuna. Waktu itu di langit terlihat separuh matahari, separuh ufuk yang hitam dan seekor burung, camar-camar berkejaran terbang dengan paruh gaduh.
Dan saat ini aku adalah Banowati yang tengah memutar lagu cinta dalam volume rendah, tiduran di dalam kamar seraya mengkhayalkan sebuah peristiwa yang mungkin terjadi di luar sana. Jauh di luar sana. Di Kurusetra. Lagu cinta seorang istri yang akan kehilangan suami.
Ia suamiku, Arjuna. Sebagaimanapun itu. Masa lalu memang menjanjikan aku sebagai seorang mata-mata Pandawa yang menyerahkan tubuhnya pada Duryudana, pemimpin Kurawa. Tapi, sebagaimanapun waktu, hal itu pelan-pelan beranjak berlalu. Aku seorang wanita. Sebagai wanita mengartikan sebuah kuasa, sebuah penyerahan kesetiaan dan keikhlasan hati tanpa pura-pura. Dan untuk Sarjakusuma buah cintaku bersama Duryudana, aku tak hanya seorang ibu yang bisa memberi susu, tapi juga sebuah sarang untuk bersiap terbang bila nanti anakku beranjak dewasa: peran yang tak akan kutinggalkan bila aku akan kehilangan kalian para lelaki yang pernah singgah di hatiku. Dan itu pasti.
Kali ini, aku merindumu di relung balairung. Dikelilingi tiang-tiang pancang atap, burung-burung yang terbang menjerit, di antara potongan-potongan awan pada senja yang hampir tanggal.
Kurasakan tanda-tanda tamatnya wiracarita kita. Di mana harus kulepaskan dahaga ini? Hati manusia yang mana, dewa yang mana, yang akan memberikan padaku kedalaman sebuah danau? Aku telah mencarinya dalam liku-liku rahasia hatiku, lika-liku cintaku terhadapmu, juga kepada Duryudana. Kuulurkan tanganku. Lihat, kuulurkan tanganku tapi selalu kau yang kujumpai. Cuma kau menghadapi aku. Aku pada kau. Aku pada kalian.
Janji-janji kalian kali ini tak tertepati. Kau bilang Astina akan jaya bersama Pandawa, Arjuna. Rakyat dan semua akan bahagia. Tak ada rasa curiga, benci dan pertumpahan darah. Kau janjikan pula ketentraman rakyat, orang tua, balita dan wanita dalam lindungan para punggawa yang gagah perkasa, Duryudana.
Tapi kini, setelah Kurusetra tak lagi bercerita tentang perang dan pedang, kemenangan telah menjadikan sebuah kebebasan yang kebablasan, Arjuna. Para prajurit, punggawa dan kuda-kuda dengan congkak masuk gerbang kota. Mereka berteriak, beringas dengan mata nyalang dan jalang. Mereka menjadi penguasa baru, menjadi iblis yang bengis menguasai kota.
Semua adalah onggokan yang tak berguna, adalah barang rampasan yang bisa dicampakkan begitu saja. Bahkan juga para wanita.
Maka debu mengepul dari alun-alun, Duryudana. Kota porak poranda. Semua ingin menguasai sesuatu, memiliki sesuatu dan juga menyiksa, memperkosa sesuatu. Orang-orang berlarian tak karuan mencari selamat. Semua mata hendak menelan apa yang tampak. Bahkan kehormatan dan tubuh perempuan. Astina berubah menjadi Kurusetra yang kedua.
Dan aku seakan terhumbalang ke jalan seperti seekor bangau yang terbang terhuyung dengan sayap kuyup oleh hujan. Arjuna, Duryudana, aku lelah. Dalam kelelahan itu kukirim sebuah kartu pos bergambar gereja terbakar untukmu, untuk kalian: aku di ISJ. banyak perempuan yang ditusuk kemaluannya dengan linggis setelah terlebih dulu diperkosa. mereka berdatangan kemari dan mengadu. aku ingin punya lima anak. atau sebanyak-banyaknya. perempuan-perempuan itu tak akan lagi pernah punya anak. rahimnya rusak oleh linggis. kau dimana? kalian dimana?
Suara ilalang gemetaran. Dan malam mengigau dalam gerimis yang tak kelihatan. Kau pasti tak disitu bukan? Kau tak disitu.
Diluar langit kosong. Dan sepi.


Cerpen ini memenangkan Lomba Pekan Seni Mahasiswa (Peksiminas) 2008 di Universitas Jambi akhir bulan Juli dengan juri sastrawan Hamsad Rangkuti dan Joni Ariadinata

Local Genius dan Rekonsiliasi Kultural melalui IKF 2008

Local Genius dan Rekonsiliasi Kultural melalui IKF 2008

Kesenian dalam masyarakat mempunyai posisi, fungsi, dan pemaknaan yang lekat dengan kebutuhan akan estetika, etika, spiritualitas, identifikasi, komunalitas, dan juga ekonomi. Musik juga mempunyai karakter fungsi sosial, dalam perkembangannya mengalami reduksi fungsi sosialnya terus menerus sehingga berjarak dengan masyarakatnya. Musik mendapat sebuah ”tempat khusus” yang sulit dipahami, sehingga menjadi segmentatif, hanya dapat dinikmati khusus bagi kaum pecinta seni dan tak menyentuh masyarakat ”awam” atau bahkan ketinggalan jaman.
Padahal bagi sebagian pelaku kesenian dan pemerhati kebudayaan, musik eksis sebagai salah satu sumber kreasi. Berbagai karya musik monumental tercipta dari seniman-musisi dunia mulai dari Mozart, Yanni, Kitaro sampai dengan Vanessa Mae dan Gesang. Kekayaan multi dimensi yang dimiliki musik ternyata mampu membuka kemungkinan berbagai bentuk ekspresi.
Hanya saja tidak melulu merujuk pada bentuk, melainkan bagaimana spirit musik mampu menjawab tantangan perubahan zaman, berdialog dengan laju pertumbuhan peradaban, teknologi, gaya hidup, nilai sosial, ruang, dan wacana kebudayaan kontemporer. Masyarakat berkembang, mengapa bukan musik yang melakukan kontemporerisasi dengan spirit yang eksis?
Bukankah kekinian adalah sejarah dan tradisi yang membangun dan berjalan? Di dunia modern dengan percepatan teknologi media dalam belantara beton kapitalistik seperti saat ini, intelektualitas subyektif para pelaku seni dalam berbagai bentuk keseniannya harusnya mampu mentransformasi spirit kesenian dalam artikulasi artistik masing-masing dengan memperhatikan ruang, audiens dan mampu membangun kembali memori kolektif masyarakat tentang kesenian dalam berbagai media. Dan kini, setelah Candi Borobudur dicabut dari daftar keajaiban dunia yang dikeluarkan UNESCO, maka sesungguhnya (hanya) kesenianlah (musik, tari, wayang, dan lain-lain) yang masih mampu menegaskan harga diri dan martabat bangsa di dunia internasional. International Keroncong Festival (IKF) 2008 bisa menjadi langkah awalnya.

LocalGenius
Pada 5-7 Oktober 2008 di Solo akan berlangsung Festival Keroncong Internasional atau IKF. Selain menampilkan pertunjukan orkestra keroncong spektakuler, kegiatan yang akan dihadiri masyarakat keroncong Indonesia serta penyanyi non keroncong itu juga akan ditandai dengan Kirab Keroncong Pusaka.
IKF akan diikuti 15 kelompok keroncong dari berbagai wilayah budaya di Tanah Air, seperti Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera Utara dan Papua. Juga akan tampil antara lain Gita Gutawa, Letto, Sheila On 7, Rosa, Ungu serta Ari Lasso. Mereka menyanyikan lagu milik mereka dengan iringan musik orkestra keroncong. Selain itu juga ada kontingen dari Malaysia dan Kanada.
IKF akan diselenggarakan di Taman Balekambang, sebuah taman lama di bagian barat laut kota yang baru saja selesai direnovasi. Panggung untuk konser musiknya akan dibangun di tengah kolam besar. Ini sekaligus akan menjadi uji coba untuk penyelenggaraan Kongres Wali Kota-kota Pusaka Dunia (OWHC) di Kota Solo.
Acara ini membawa misi untuk mengukuhkan keroncong sebagai musik pusaka Indonesia dan tindak lanjut pencanangan Solo sebagai Kota Keroncong pada September 2007. Hal ini juga ingin menunjukkan kekuatan local genius di masyarakat, khususnya Solo, yang telah dan mampu melakukan penetrasi secara kultural sehingga eksis di peta kebudayaan. Untuk itu pula, IKF akan mengundang peserta dari Malaysia, negara yang akhir-akhir ini dilaporkan sering melakukan klaim atas beberapa karya budaya yang dianggap sebagai local genius bangsa Indonesia.
Tanpa menggunakan kata musik, keroncong mewakili musik artistik penduduk kepulauan rumpun Melayu bernama Indonesia, dengan pola ritme gitar pengiring, ukulele, cello yang dipetik, merupakan ciri khas gamelan dan musik gendang Melayu. Falsafah gamelan Bali, Jawa, Sunda dan gendang Melayu jelas dianut keroncong. Biola yang membawakan tema lagu, diikuti instrumen lainnya yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya melalui adaptasi naluri serta timbang rasa, yang tidak lazim dalam musik Barat (Yogi Sugito, 1996) Itulah kekuatan keroncong yang dikagumi dunia karena berpegang teguh pada kaidah-kaidah adiluhung mempertahankan keaslian estetika musikalitasnya.
Saat ini, keberlanjutan musik keroncong memang perlu dilakukan dengan mengadakan pendekatan pada musik yang sesuai dengan zamannya. Bondan Prakoso feat Fade To Black dengan lagu Kroncong Prothol, sebagai contoh pendekatan musikal yang dilakukan generasi sekarang terhadap keroncong sehingga menjadi lebih bervariasi dan menghibur, tanpa mengurangi esensi musiknya.

Rekonsiliasi Kultural
IKF bisa menggairahkan kembali semangat bermusik serta memicu kreativitas pekerja seni dalam menciptakan komposisi kaya warna. Lebih luas, kecintaan masyarakat terhadap keroncong akan tumbuh melalui acara ini. IKF bisa menjadi tonggak sebuah rekonsiliasi kultural yang menumbuhkan pemahaman bahwa musik bukan sekadar instrumen dan bunyi, tetapi sarana komunikasi mempererat relasi antarwarga, suku, golongan, serta bangsa.
Keroncong bukan sekadar orkestrasi alat musik, tapi merupakan spirit. Alat musik hanyalah media, dan spirit yang mendasarinya adalah kebersamaan. Dan kebersamaan akan membangun dan menumbuhkan sesuatu yang baik. Dalam konteks yang lebih luas, ketegangan politik antar negara tak berpengaruh kepada seniman-seniman yang tetap bersahabat dan bersama memainkan musik. Itulah kebersamaan.
IKF 2008 baiknya tidak hanya dimaksudkan untuk mempresentasikan sebuah bentuk kesenian di ruang publik sehingga masyarakat hanya menyikapi sebagai tontonan belaka, tapi dapat terlibat secara langsung dengan mengapresiasi gagasan tentang seni budaya. Dengan demikian, nantinya bisa muncul pula gagasan-gagasan kreatif dari masyarakat untuk terlibat dalam kreasi seni sehingga pembayangan tentang seni budaya di masa depan akan lebih nyata dan terbaca kemungkinannya. Karena sesungguhnya keroncong adalah sesuatu yang kaya dan multi-aspek, baik sebagai basis penciptaan kreatif, maupun dalam perspektif ekonomi dan industri.
IKF 2008 bukan hanya perhelatan dan pertemuan artistik, namun juga untuk menggali kembali spirit musik keroncong dalam memori kolektif masyarakat. Momen ini bisa jadi hanya sebuah daya kejut kepada masyarakat, namun diharapkan mempunyai dampak yang signifikan untuk mengembalikan (alternatif) identitas di era sekarang yang cenderung berkebudayaan instan dan seragam. Inilah peran penting seni budaya: sebagai pusaka yang hendak diwariskan bagi anak cucu kita, sebagai pustaka di mana kita bisa membaca sejarah gemilang (yang kini mulai hilang) dan berkaca padanya.


Dimuat di Harian JOGLOSEMAR pada Senin, 22 September 2008

Polisi Tidur dan Sosok Polisi Ideal

Antara Polisi Tidur dan Sosok Kapolri Ideal

Ada anekdot di masyarakat. Seorang lelaki, saat antre membuat Surat Izin Mengemudi (SIM), bertanya kepada temannya: “Adakah polisi yang tidak bisa disuap?” Temannya berbisik, “ Ada, tapi cuma dua. Hoegeng dan polisi tidur.” Hoegeng adalah mantan Kapolri pada 1968-1971 yang terkenal anti suap dan korupsi.
Anekdot ini sangat menggelitik, seakan menegaskan cap masyarakat bahwa Polri jauh dari kesan bermutu. Dalam konteks proses pergantian Kapolri, pengganti Jendral Polisi Sutanto idealnya adalah seorang yang mampu menjawab pertanyaan tersebut.

Refleksi
Dalam sebuah peralihan, pastinya akan ada semacam refleksi dan revisi dari masa sebelumnya, menuju langkah rekonstruktif selanjutnya.
Kapolri Sutanto dinilai cukup baik dalam mengembangkan dan meletakkan dasar-dasar bagi proses reformasi dan regenerasi yang berpengaruh bagi ekskalasi kualitas kepolisian.
Upaya pemulihan citra negatif Polri juga dilakukan. Pada level teknis misalnya, dilakukan pemberantasan calo pembuatan SIM yang bergentayangan di Polda dan menyediakan mobil SIM Keliling. Upaya menghindari “uang damai” seperti yang kerap terjadi di jalan raya, juga dilakukan.
Pada tataran peningkatan kualitas SDM, jajaran Polri kerap disertakan dalam berbagai pelatihan, diantaranya training ESQ. Dari sana diharapkan akan muncul kader pemimpin yang tangguh, dengan tak hanya berbekal IQ tapi juga EQ dan SQ mampu berinovasi dan menganalisa dengan tepat dalam mengantisipasi perkembangan zaman.
Idealnya sosok seorang polisi harus selalu menekankan pada kualitas pribadi dengan sifat dan sikap yang baik kepada sesama, serta bertanggung jawab memprioritaskan kualitas etika tanggung jawab dirinya dalam rangka tugas dan perannya sebagai pengawal masyarakat.
Di sinilah kita rindukan Kapolri baru yang peka, peduli dan terbuka terhadap kritik, yang mampu mengatasi beberapa pekerjaan rumah (PR) baik internal maupun eksternal.

Eksternal
Kapolri baru harus mampu menumbuhkan rasa terlindungi di masyarakat. Hal itu hanya mungkin terjadi jika ia terus-menerus berinteraksi terhadap jajarannya di seluruh tanah air, bukan hanya mendengar laporan. Bukan rahasia, sampai kini, kita selaku sipil merasakan belum terlindungi oleh keberadaan polisi. Teror bom dan perampok bersenjata api adalah hal yang menonjol selama ini.
Terlebih tuntutan mutlak profesionalisme polisi adalah tidak pernah larut menjadi kelompok ‘elite’ yang terpisah dari masyarakatnya. Terlebih jika kita perhatikan contoh-contoh tindakan represif polisi dalam menangani tindak kriminal dan berbagai persoalan masyarakat, justru hanya menurunkan dukungan publik dan legitimasi polisi.
Sosok ideal Kapolri ke depan juga harus mampu independen dari lingkaran kekuasaan dan memiliki paradigma baru yang bebas dan bertanggung jawab. Sebagai salah satu alat negara, keberadaannya bermakna strategis karena kekuatan pengaruh yang dimilikinya.
Kemampuan menguasai Polri, dalam perspektif politik dimaknai sebagai menguasai sebagian dari kekuatan negara. Maka para politisi akan cenderung memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi dengan berbagai motif, sehingga terjadi tarik-menarik kepentingan.
Meski kedudukan lembaga kepolisian dan pengangkatan Kapolri tidak dapat dilepaskan dari keputusan politik, polisi harus bebas dari intervensi kekuasaan politik yang mengatasnamakan hukum. Kita tidak menghendaki Kapolri yang bermasalah, punya bisnis atau terbiasa jadi backing untuk kelompok/bisnis tertentu, tapi juga tidak akan menimbulkan konflik lanjutan dalam tubuh Polri. Hal semacam ini yang patut digarisbawahi.
Di dalam negeri, Kapolri harus mampu meredam gerakan-gerakan separatis sekaligus menciptakan keamanan berkelanjutan. Saat ini banyak gangguan keamanan di Indonesia yang sebenarnya punya mata rantai dengan negara-negara lain. Untuk itulah kemampuan lobby internasional Kapolri sangat diperlukan. Inilah PR eksternal yang dimaksud sebelumnya.

Internal
Sebagai PR internal, tantangan yang dihadapi Polri untuk mengatasi berbagai permasalahannya, diantaranya kurangnya personel dan dana operasional. Dari data Polri (2005) perbandingan antara jumlah personil polisi dengan masyarakat hingga saat ini rata-rata 1:700. Artinya satu polisi melayani 700 orang.
Rasio polisi dan penduduk yang ideal adalah 1:400. Sebagai perbandingan, di Brunei Darussalam, rasio polisi: masyarakat 1:200, Hong Kong 1:220, Singapura 1:250, Malaysia 1:400, Filipina 1:500, Thailand 1:550, Korea Selatan 1:563, Vietnam 1:650, Kamboja dan India masing-masing 1:700, serta China 1:750.
Sementara itu, gaji polisi di Indonesia pangkat terendah, nol tahun pengalaman kerja, berbeda jauh jika diperbandingkan dengan gaji karyawan bank di Indonesia (golongan terendah). Mengacu standar PBB, kesejahteraan anggota Polri menjadi yang terendah di Asia. Dengan indikator gaji polisi pangkat terendah dan nol tahun pengalaman kerja dibandingkan gaji karyawan bank golongan terendah di negara masing-masing, diketahui bahwa gaji polisi kita 26%. Sedang gaji polisi Vietnam 35%, Thailand 58,1%, Malaysia 95,9%, Singapura 109%, Jepang 113,2% dan Hong Kong 182,7% (Kompas, 3/7/07)
Polisi di Indonesia, sejauh ini memang terus bergelut dengan persoalan internalnya. Tentu, gaji yang rendah dan rasio yang belum ideal bukan alasan untuk tidak bekerja maksimal. Polisi tetap dituntut all out dalam tugasnya: memberikan pelayanan dan perlindungan kepada masyarakat.
Selain harus serius menuntaskan masalah Kamtibmas, Kapolri yang baru juga dituntut peka terhadap kehormatan korps dan aspirasi anggota. Jika tindakan anggota mempermalukan korps, jangan segan menindak. Demikian pula sebaliknya.
Polri diharapkan tidak lagi konvensional, apalagi menganggap masyarakat bodoh dalam memahami kebenaran dari setiap kasus besar. Belakangan, mata publik tajam menyoroti kinerja polisi dalam menangani aksi unjuk rasa (Universitas Nasional, Insiden Monas 1 Juni) dan kasus salah dakwaan.

Ideal
Seorang Kapolri harus mempunyai visi dan misi yang jelas dalam memimpin Polri, baik dilihat dari segi kepemimpinan, senioritas, kemampuan maupun kredibilitasnya. Kapolri juga dituntut harus luwes mencari jalan keluar sebuah permasalahan sekaligus tegas dalam menegakkan aturan bagi diri dan jajarannya demi sebuah tujuan.
Maka dalam menghadapi perkembangan serta dinamika masyarakat, paradigma yang bisa dikedepankan saat ini adalah pendekatan soft power, yaitu melalui kemitraan dan pemberdayaan masyarakat. Hal ini telah dikembangkan dalam strategi perpolisian masyarakat (Polmas) sejak tahun 2005. Dengan strategi ini, Polri tidak lagi sekedar bersifat reaktif, namun dituntut untuk proaktif, dalam memberikan layanan kepolisian dengan slogan 3 S: senyum, sapa dan salam, serta sopan dalam berbicara dan santun dalam bertindak.
Semoga dengan uraian kondisi, usaha refleksi, pemetaan masalah dan usulan solusi di atas, kita akan temukan sosok ideal seorang Kapolri mendatang: polisi si­pil yang demokratis, jujur, bertang­gungjawab, menjauhi cara kekerasan dan militeristik dalam bertugas, serta syarat-syarat superlatif lainnya.

Dimuat di Harian SOLOPOS tanggal 23 September 2008

Kesenian Tanen

Penyebarluasan Kesadaran Konservasi Alam melalui Kesenian Tanen

Seni sebagai karya kreatif dalam bentuk dan cita rasa estetis merupakan bagian dari hidup masyarakat. Keberadaan seni berkembang dari aktivitas kognitif yang murni dengan cara-cara yang dipakai manusia. Sajak bermula dari ucapan, dialog. Tari berawal dari gerakan atau gesture. Begitu juga seni yang lain.
Oleh karena itu keberadaannya telah berakar kuat dalam sebuah kerangka kerja tentang kehidupan kolektif. Seni merupakan sebuah bentuk komunitas umum yang intens, sehingga menambah kekuatan komunikasinya dan bahkan memperluas maknanya. Itulah sebab mengapa di setiap kesatuan masyarakat tumbuh dan berkembang berbagai kesenian.
Di Dusun Grintingan, Desa Lencoh, Kecamatan Selo, Boyolali, terdapat kesenian Tanen yang menggambarkan kehidupan sehari-hari masyarakat setempat dalam bertani. Sesuai namanya, Tanen menggambarkan semangat mereka dalam mengolah tanah ladang pertanian, mencangkul, menyabit dan menyiangi rerumputan, memupuk sampai dengan sukacita panen.
Kesenian yang berkembang dari seni ketoprak yang hidup di dusun tersebut sejak dua dekade lalu itu, dimainkan oleh 7 pasang pemuda berpakaian sorjan ala petani, diiringi gamelan Jawa lengkap. Diluar kenyataan kaya dan beragamnya jenis kesenian di daerah Merapi-Merbabu, kebanyakan kesenian rakyat wilayah ini menampilkan sosok prajurit dengan atau tanpa menunggang kuda, maupun bertokohkan buto (raksasa). Tanen menjadi alternatif tontonan yang menarik untuk melihat potret realitas masyarakat setempat.
Sebagai bagian dari masyarakat agraris, Tanen memiliki penyikapan yang jelas dalam bidang pertanian, konservasi alam dan lingkungan hidup. Selain dengan tegas terlihat pada geraknya, hal ini juga muncul dalam lirik lagu yang digunakan (Syiar Budaya dan Konservasi), properti iringan musik (kentongan) dan konteks awal fungsi keseniannya.

Sistem Simbol
Ditinjau dari ilmu sosial, tari menghubungkan antara kesadaran kolektif, struktur sosial, individu, fungsi tari dalam struktur itu. Secara tekstual, tari dapat dipahami dari bentuk dan teknik yang berkaitan dengan komposisinya (analisis bentuk atau penataan koreografi) atau teknik penarinya (analisis cara melakukan atau ketrampilan). Sementara secara konsep yang berhubungan dengan sosiologi ataupun antropologi, tari adalah bagian integral dari dinamika sosio-kultural masyarakat. Keduanya diberlangsungkan melalui simbol-simbol yang ada dalam tariannya.
Sistem simbol adalah sesuatu yang diciptakan oleh manusia dan secara konvensional digunakan bersama, teratur dan benar-benar dipelajari sehingga memberi pengertian hakekat ”manusia”, yaitu suatu kerangka yang penuh arti untuk mengorientasikan dirinya kepada yang lain, kepada lingkungannya dan pada dirinya sendiri, sekaligus sebagai produk dan ketergantungannya dalam interaksi sosial (Sumandiyo Hadi, 2005). Jadi tari dipandang sebagai sistem simbol yang merupakan representasi mental dari subyek dan wahana konsepsi manusia tentang suatu pesan untuk diresapkan.
Tari sebagai sistem simbol dapat pula dipahami sebagai sistem penandaan. Artinya kehadiran tari tidak lepas dari aspek geraknya, iringan, tempat, pola lantai, waktu, tata pakaian, rias dan properti. Sistem penandaan ini mengandung makna harfiah dan langsung ditunjukkan menurut konvensi yang dibentuk bersama oleh masyarakat atau budaya dimana simbol atau tanda itu berlaku.
Dalam konteksnya, Tanen dipentaskan pada setiap perayaan tanggal 28 Sapar. Sebagaimana halnya arti bulan Sura di sebagian besar daerah Jawa, Sapar mempunyai arti penting di Grintingan. Di bulan ini dilakukan upacara memohon berkah keselamatan dan kesejahteraaan bagi masyarakat setempat. Terkait dengan sebagian besar penduduknya yang bermata pencaharian sebagai petani, maka dilakukan ritual kenduri dan penanaman bibit pohon di sekitar mata air yang mengairi dusun mereka.
Di luar kepercayaan adanya pepundhen seperti umumnya kelompok masyarakat Jawa lainnya, kesadaran konservasi alam telah tersurat di Grintingan. Dan hal ini berlanjut pada bentuk pementasan Tanen.
Dari lirik lagunya terungkap seruan konservasi: He prakanca aja bingung/ Ayo jaga gunung-gunung/ Merbabu lan Merapi/ Lumakune konservasi/ Uga penghijauan iki/ Dadi sarana sayekti panguripan/ Warga ing Lencoh, Selo (hai teman-teman jangan bingung/ mari menjaga gunung-gunung/ Merbabu dan Merapi/ berlangsungnya usaha konservasi/ dan juga penghijauan ini/ menjadi cara mencapai hidup yang lebih baik/ bagi warga di Lencoh, Selo).
Dalam geraknya, secara tidak langsung Tanen telah menyiratkan langkah-langkah pola pertanian yang selama ini dirumuskan pemerintah melalui kebijakan pertaniannya. Masyarakat Grintingan justru telah melampaui kesadaran semacam itu dengan cara mereka sendiri, yang tercermin dalam gerak-gerak kesenian Tanen. Vokabuler gerak yang dimaksud adalah nyabit, ngarit, macul dan juga jlong-jlong.
Inilah kebijaksanaan lokal berupa pengetahuan diri, menggali makna dan hubungan secara lebih luas, memiliki perspektif luas, mengambil perspektif dalam pertimbangannya, mempunyai pandangan akurat mengenai kelebihan dan kekurangan dirinya (termasuk batas-batas apa yang dapat dilakukan), serta melihat dengan hati terhadap persoalan-persoalan penting (Leary, 2005).

Media Efektif
Meski demikian patut dipahami bahwa pandangan sistem simbol menunjuk pada konsep,, bukan pada bendanya. Tari merupakan simbol presentasional yang menunjuk pada makna tersembunyi yang memerlukan interpretasi, yaitu mengungkap makna yang tersembunyi di balik makna yang langsung tampak, atau mengungkapkan tingkat makna yang diandaikan di dalam makna harfiah (Langer, 1983)
Selain fungsi integratif bagi masyarakatnya, Tanen justru menampakkan konsep pertunjukannya sebagai mediator, tanpa jatuh pada penampakan yang vulgar, dan oleh karenanya banal. Konsep konservasi alam dan lingkungan hidup mengalir dengan lancar dan nyaman tergabung dalam ekspresi keseniannya.
Tanen mempunyai nilai lebih sebagai kesenian yang unik, berbeda dengan kesenian sekitarnya, yang justru merepresentasikan ciri khas daerahnya. Oleh karenanya ia mampu menarik banyak penonton. Pada titik inilah Tanen bisa menjadi media efektif untuk penyebarluasan nilai kesadaran konservasi alam dan lingkungan.
Tidak hanya pada masyarakat petani yang tentu saja mempunyai ketergantungan mutlak pada kelestarian alam, seiring dengan meningkat isu pemanasan global, konservasi alam memang menjadi suatu keniscayaan.
Kesenian setipe bisa jadi banyak terdapat di Indonesia. Beberapa tari seperti tayub, maengket dari Minahasa atau tari lenso dari Maluku berlaku sebagai ritus kesuburan, baik kesuburan tanah maupun kesuburan manusia itu sendiri.
Akan tetapi dengan sistem simbol yang berlapis dalam elemen artistik, konteks dan perwujudannya, menjadikan pemahaman mengenai nilai yang ada di baliknya diterima searah dan tidak seluruhnya tersampaikan kepada masyarakat yang mempunyai bekal pemahaman beragam. ”Kegagalan” semacam ini pula yang menjadi alasan tudingan kepada tayub sebagai satu kesenian yang patologis.
Tanen justru menampilkan suatu kesederhanaan bentuk dan cara ucap yang mampu menunjukkan bernasnya nilai-nilai yang ada di baliknya. Konsep konservasi menjadi terbahasakan dan oleh karenanya tersampaikan kepada masyarakat. Hal ini penting untuk bangsa Indonesia yang bhinneka dan sebagian besar penduduknya petani.
Élan vital yang berkelanjutan semacam ini berkontribusi sebagai daya hidup bagi proses peradaban bangsa yang multikultur. Termasuk sebagai upaya transformasi nilai, sikap, disparitas terhadap upaya memandang modernitas dan pembangunan (Fauzan, 2005).

Dimuat di Harian KOMPAS Rabu, 15 Oktober 2008 di halaman C

Jumat, 15 Agustus 2008

kembali, untuk sementara, inilah cangkeman saya:

Membaca Film Tari (Dancefilm)


Kajian sinema yang berbasis beragam ekspresi seni sesungguhnya bisa menjadi bidang baru yang memberi angin segar bagi peragaman studi ilmu budaya karena sinema menampung dan mewakili esensi beragam permasalahan sosial budaya.
Dengan budaya multimedia saat ini, film adalah suatu tempat yang mempertemukan pelbagai unsur, yang terkadang sama sekali tidak berhubungan dengan sinematografi, sehingga kemungkinan sajian menjadi semakin beragam. Terbuka kemungkinan sebuah simbiosis yang mengawinkan seni tari (seni pertunjukan) dalam media rekam film. Akan tersingkap sebuah pendekatan estetika sinema melalui disiplin koreografi tari, ideologi, ikonografi dan lainnya.
Media pada akhirnya telah merevolusi seni pertunjukan. Pertunjukan bersifat fana, hanya ada saat dipertunjukkan, lalu menghilang, menyisakan sekilas catatan, pun kalau ada. Dan tarian mungkin adalah pertunjukan yang paling fana. Seni pertunjukan akan musnah, tetapi naskah drama, partitur musik dan rancang panggungnya terus hidup. Hal yang diberikan media pada tari adalah kemampuan untuk merebut yang fana, mengekalkan saat dan menyimpannya untuk selamanya.
Tetapi tari hanya satu bagian dari pertunjukan. Bagaimana dengan detil lainnya: kostum, musik, ruang pertunjukan di prosenium, pendapa, makam, atau ritual suci/sekular sebagai bagian integral suatu pertunjukan; ritual latihan, pemanasan, berdandan dan mengenakan kostum, atau ritual meminta ijin kepada para dewa untuk menari, atau mempersembahkan tarian kepada para dewa? Siapakah para penari – lelaki, perempuan, tua, muda? Semua itu bisa dilakukan lewat film.

Dancefilm
Film adalah tindakan melihat (act of viewing) dunia seperti yang terlihat. Namun pada saat yang sama, orang harus belajar bagaimana melihat film. Orang perlu melihat film dan juga pertunjukan sebagai suatu kemampuan (faculty) yang mampu menjembatani dua cara melihat dunia, antara satu cara yang berdasar pada pemikiran-representasi dan cara lain yang bersandar pada praktik-pengalaman. Film bukan hanya sebagai representasi, tetapi juga pengalaman dan tindakan melihat. Kemampuan film untuk memilah adegan, memfokuskan, membesarkan, memperlambat, dan sebagainya membuat alih-ubah pengetahuan mengenai teknik pertunjukan tertentu menjadi lebih mudah dipelajari.
Kini telah lahir bentuk seni baru akibat peleburan kreatif antara tari dan media. Tarian yang khusus diperuntukkan bagi kamera tidak terbatasi oleh berbagai hal sebagaimana tarian langsung. Gravitasi dapat disangkal, konsep lambat, cepat, tegak, dan terbalik tidak lagi berlaku, penari dapat berbiak menjadi banyak, dan dapat menghilang dari pandangan. Waktu, ruang, dan gravitasi tidak lagi membelenggu khayal. Hal ini yang dikenal sebagai film tari (dancefilm)
Kehadiran film tari sudah diawali lebih dari satu dekade lalu. Saat itu dancefilm masih diperbincangkan di kalangan akademik yang memiliki program dancefilm studies. Menurut Rhoda Grauer, di Amerika Serikat media baru ini bahkan baru saja muncul pada dekade 1960-an. Dari pendapat ini, sebenarnya bisa dipahami bagaimana perjalanan film tari di dunia internasional masih anak bawang. Amerika sebagai salah satu perintis tari modern lewat nama-nama besar seperti Isadora Duncan pada 1920-an, baru meluncurkan sebuah festival film tari yang dinamai Dance on Camera pada tahun 1971. Namun, eksistensi festival ini baru “diakui” secara nasional dan internasional pada tahun 1999 (Utari, 2005).
Film tari bukan semata-mata film tentang tari. Ia tidak sekedar dokumentasi, tapi lebih dari itu, yakni sebuah format sinematografi yang dituturkan lewat kreasi dancing bodies, pola musikal, efek audio-visual dan teknologi secara proporsional. Dalam bagian tertentu, filmografi dalam film tari dapat dipresentasikan sebagai biografi tubuh.
Sebagai genre, film tari (Rhoda Grauer menyebutnya dancevideo) merupakan kreasi lengkap bentuk seni yang mengeksplorasi disiplin baru dan tidak semata-mata kemampuannya dalam mendokumentasikan apapun secara audio visual.
Menurut Erin Brannigan, kurator festival film tari ReelDance International Dance on Screen, disatu sisi dancefilm menegaskan eksistensi penari sebagai performer. Penonton mungkin tidak bisa ikut bergerak dengan penari, tetapi mereka bisa melihat dari dekat peluh, ekspresi wajah, tarikan nafas penari dengan lebih tajam dan cermat. Gerak tubuh penari menjadi optimal dengan juga akan mengedepankan penekanan terhadap kinestetika (estetika gerak) yang berujung pada sebuah komunikasi kinestetis. Langer menyebutnya sebagai citra dinamis, bahwa apa yang terpancar dari gerak tari lewat tubuh adalah suatu fenomena atau perwujudan dari laku yang secara tepat meyakinkan bagi persepsi audience, tidak melalui materi-materi fisik, maupun elemen-elemen seni pertunjukan (kostum, tata rias, tata cahaya, tata panggung dan lainnya).
Dilain pihak, film tari pada akhirnya melawan dominasi pendekatan dramatik yang linear serta dominasi hirarkis yang mendominasi produksi film. Pola semacam ini yang disebut sebagai pola screenplay dimana sebuah struktur film yang “horizontal” biasanya berafiliasi dengan drama (proporsi bahasa yang linear, alur tokoh, permasalahan serta penyelesaian), dan bagaimana hal ini menyusun bangunan narasi film bodies.
Dalam film tari, bila pola screenplay diterapkan melalui instrumen tubuh, ia akan menyesuaikan diri dengan pola ungkap bahasa. Ia bisa menjadi naratif, sekaligus sangat surealis atau bahkan absurd. Film tari justru mengembangkan struktur film “vertikal” yang mengedepankan momen dengan kualitas dan kedalaman artinya sehingga penonton merasakan sebuah sensasi puitik. Ia menawarkan sebuah perkembangan proporsi alur dramatik yang akan memperkaya sajian film, dengan membangun sebuah kesadaran film bodies yang tersusun dari aspek koreografis.

Opera Jawa
Contoh film tari adalah film Opera Jawa: Sinta Obong (OJ) karya Garin Nugroho. Dalam OJ, struktur dramatik setiap adegan dibagi menjadi drama biasa (dimulai dari realitas sehari-hari), perlahan menjadi koreografi gerak di lokasi sesungguhnya, lalu menjadi koreografi utuh dengan musik (berunsur bunyi dan gerak) yang terlibat dalam drama dan koreografi itu sendiri. Jalinan cerita yang menyusun film ini adalah bahasa komunikasi media screen. Ia menggariskan sebuah struktur alur yang berkait dengan plot cerita dalam pola screenplay.
Contoh kasus adalah scene instalasi tumpukan-tumpukan sabut kelapa membentuk lingkaran spiral sebagai setting. Ini adalah labirin yang dibuat untuk adegan menjaga Sinta. Sinta dengan beras di dahi sebagai bentuk ritual penyelamatan masuk dan mendapati labirin spiral yang tak berujung, lalu mendapati sebuah sosok yang serasa mengancamnya berupa juluran kukusan seperti geliat seekor naga yang menghentak diiringi nada riuh klintingan. Sinta tersudut, gelisah, berhasrat keluar, tapi terbendung tanpa daya. Ia terkulai di tumpukan sabut sementara "Rahwana" bersembunyi dalam kukusan (kerucut bambu) yang panjang dan menjalar layaknya liong, berusaha mendekatinya. Kukusan dengan klintingan itu seperti bergerak, bersuara sendiri.
Koreografi ini didasarkan pada konsep nilai bahwa kukusan adalah pembentuk saren (makanan yang berasal dari darah yang dibekukan) sebagai simbolisasi penguasaan mutlak terhadap yang lain. Kukusan juga membentuk sebuah moncong hewan melata selayak seekor naga rakus dan ganas. Dengan berkain batik dan bersandal kayu theklek, tampilan ini seperti sebuah pentas kesenian liong Jawa. Bentuk seperti ini menegaskan konsepsi mimicking (peniruan) yang terdapat pada seni pertunjukan.
Shot dari atas memperlihatkan kukusan itu memutar-mutar mengelilingi Sinta, menjadikan sebuah pola screenplay berupa dramatika cerita pada surealisme yang ditunjukkan dalam dancing bodies adegan tersebut. Kehadiran sosok kukusan yang bergerak, menari dalam adegan tersebut menegaskan karakter dancing bodies yang dibawa serta dalam kelanjutan pola screenplay (menunjuk pada struktur dramatik cerita) dalam scene dimaksud.
Erin Brannigan menegaskan bahwa film tari merupakan sebuah kreativitas artistik penari, koreografer, media dan seniman musik berkolaborasi dalam ranah kemungkinan artistik dalam mengungkap ruang fisik (arena pentas), mengolah setiap komponen ungkap mereka sendiri, tentu saja lewat cara dan perspektif masing-masing. Ia juga menegaskan bahwa “dance film…radical aesthetic roles for the human body in motion, placing it at the centre of their aesthetic and technological explorations”
Inilah pluralisme yang memunculkan perlintasan, perkawinan atau peleburan ruang dan media. Tak ada yang absolut karena semuanya terus bertumbuh, termasuk untuk film tari.









Penulis adalah Purnawan Andra,
penikmat film. Sedang mendalami kesenian pada Jurusan Tari, Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta

citra



saat ini, demikianlah citra yang saya punya..