Kamis, 02 Oktober 2008

Belajar dari Daendels

Belajar dari Daendels

Ekspedisi Anjer-Panaroekan dalam memperingati 200 tahun jalan sepanjang kurang lebih 1000 km karya Daendels dapat menjadi satu pijakan penting bagi kehidupan bangsa Indonesia. Darisana kita bisa belajar dan memahami berbagai hal penting yang tersirat dari perjalanan ini. Mulai dari segi sejarah, ekonomi, tata ruang sampai dengan visi yang diperlukan dari seorang pemimpin.
Usaha pembangunan jalan oleh Daendels ini adalah suatu karya spektakuler pada masanya. Menghubungkan ujung barat sampai titik penting di wilayah timur pulau Jawa tentu saja diperlukan pengorbanan tak terhingga, baik harta, benda dan nyawa, untuk mewujudkannya. Arti penting pulau Jawa dalam konstelasi politik waktu itu membuatnya menjadi penting untuk diperebutkan.
Oleh karenanya Daendels melakukan apa saja untuk mewujudkan keinginannya. Pada titik inilah tercatat sebuah noda hitam penjajahan yang memakan ratusan ribu rakyat Indonesia tak berdosa untuk mengerjakan proyek ini. Inilah pembunuhan massal terbesar yang pernah dilakukan di Indonesia. Jalan ini berlumuran darah rakyat.
Pun demikian, arti penting jalan ini tak bisa dilupakan. Deandels menentukan rute kota yang dilalui jalan ini, bukan tanpa pertimbangan. Disertai analisa tata ruang yang mempertimbangkan kondisi geografis yang dilengkapi ide, cita-cita dan visi seorang pemimpin atas tanah yang dipimpinnya, Deandels-lah yang menciptakan konsep kota-kota wisata (Bogor), kota pendidikan,wisata dan militer (Bandung), kota pelabuhan dan perekonomian sekaligus benteng pengawas (Anyer, Banten, Semarang, Tuban, Surabaya) serta kota industri (berat dan pertanian) di Tangerang, Sumedang, Tegal, Gresik, Sidoarjo, Pasuruan.
Saat ini, selayaknya tempat yang terimbas laju modernitas membabi buta tanpa pertimbangan matang, kota-kota dalam jalur Daendels kebanyakan kini mempunyai peran berbeda dengan yang dibayangkan Daendels 2 abad lalu. Hampir seluruhnya berubah menjadi kota industri yang panas, pengap dan tak tertata. Pun demikian, sarana jalan penghubung tak terawat optimal. Banyak jalur jalan bergelombang, beberapa tempat berlubang dengan lebar tak sebanding dengan banyaknya beban muatan yang melintasinya. Kondisi ini jelas terlihat terutama di jalur Pantura Jateng.
Padahal ide awal Deandels membuat jalan ini adalah untuk memudahkan koordinasi, konsilidasi dan pengawasan daerah. Dengan jalan yang mudah dilalui, informasi cepat, jalur perekonomian berkembang dan oleh karenanya kesejahteraan rakayat daerah coba dicapai. Transportasi memang merupakan sarana mutlak bagi seluruh sendi kehidupan dari dulu, kini sampai entah kapan.
Maka dengan pemahaman semacam ini, kita memang belum dewasa unutuk memahami sesuatu dibalik yang nampak. Penjajahan memang meninggalkan jejak menyakitkan yang tak terhapus. Tapi setidaknya, artefak-artefak yang ditinggalkan, situs-situs yang tersisa dari masa lalu menggguratkan sketsa pemikiran sebuah peradaban. Penjajahan menyiratkan kemajuan yang lebih baik dalam berbagai bidang dari pihak yang dijajah. Termasuk teknologi, ilmu pengetahuan serta logika visioner. Dan kita bisa belajr darinya. Toh memang kenyataannya, jalur jalan yang dulu dirintis untuk menguasai dan mempertahankan Jawa dari serbuan Inggris ini menjadi urat nadi terpenting seluruh sendi kehidupan di pulau Jawa, bahkan Indonesia. Berarti jelas, visi Deandels-lah yang kita pertahankan untuk hidup bangsa ini sekarang.
Seharusnya kita bisa belajar darinya: mempelajari maksud, cara pengelolaan dan visi yang tersirat tapi belum terwujud dari Daendels melalui jalan ini. Sekaligus memberi arti atas pengorbanan ratusan ribu nyawa rakyat yang mengerjakannya. Bukannya dengan cara ngawur dan sembrono kebut-kebutan mempergunakan jalan, tak mempedulikan kepentingan bersama. Melaju cepat di atas genangan darah pengorbanan nenek moyang kita. Tepat, saat kita mencoba mengartikan kemerdekaan yang katanya sudah ada pada diri kita saat ini. Tapi toh?

Dimuat di Harian KOMPAS pada bulan Juli 2008

Tidak ada komentar: