Asmaradana
Mungkin tengah malam. Di luar bulan sabit seolah celurit liar yang siap menghabisi sesiapa yang berani keluar meninggalkan kamar. Bau amis menguar dari mayat perwira dan bangkai kuda-kuda rebah tanpa pelana. Berjuta hantu memburu setiap dendam yang lebam-lebam, antara takhta, kuasa dan saudara. Kali ini, Kurusetra tak menawarkan apa-apa, kecuali prahara Pandawa dan Kurawa. Lalu aku mengingatmu. Apa yang tengah kau lakukan dalam gelap ini, merindukanku?
Kali ini kau di mana? Sendirian di bawah relung atap Astina? Tentu tak ada sesiapa. Duryudana pun ada di tengah kancah prahara ini. Bukan ia tak setia pada janji suami pada istri, Banowati. Tapi kali ini ia harus berhitung atas takhta Astina, sebagai pemimpin Kurawa. Kau tahu, selepas panahku menebas leher Karna, kali ini ia harus berlaku sebagai perwira. Dan kami para lelaki satria telah memutuskan untuk harus berhadapan sebagai musuh, bukan lagi sebagai saudara.
Maka, kali ini aku harus berhitung dengan banyak hal, Banowati. Ketika esok kuhadapi Duryudana di atas pelana, maka aku tak hanya menggambar wajah seorang durjana yang hendak merebut kemerdekaanku, tapi selintas saja, pasti akan terbayang wajahmu, lalu wajah Sarjakusuma: wajah sebuah keluarga yang akan kehilangan orang yang mereka cinta seorang bapak, seorang suami yang mungkin tak terlalu kau cintai. Bila salah satu dari kami mati (itu pasti!), lalu kebahagiaan macam apa yang akan kau dapati Banowati? Harapan yang kosong tak bertepi?
Sementara kau pernah bilang bahwa aku cinta sejatimu. Duryudana hanya sekedar pura-pura agar kau bisa menjadi mata-mata Pandawa di Astina, sebagai bukti cintamu padaku.
Semua akan sangat membingungkan, Banowati. Duryudana sebagai suami tak kau cintai. Sementara aku Arjuna, adalah kijang Dandaka yang mokal kau cekal. Aku adalah sebuah cinta yang bisa didapati di sebuah cerita, tapi tak bisa menetap di sebuah tempat. Tempatku di lontar kenangan perempuan. Justru karena akulah keindahan cinta dunia. Dapatkah seseorang menjelaskan keindahan cinta sebagai sebuah wujud kata benda, Banowati?
Sebagai laki-laki, aku akan melakukan apapun demi kebahagiaanmu, sebagaimana aku bilang aku mencintaimu. Cinta adalah kebahagiaan bagi yang dicinta. Tapi cinta juga bukan berarti memiliki. Pun kalau kau ada di sini Banowati, aku ingin memberi kebahagiaan itu selalu. Untukmu. Maka ketika kau menerima pinangan Duryudana atas nama kesetiaan cintamu padaku, pada Pandawa, lalu aku sadari betapa cinta tak terkata.
Tidak, aku tidak sedang bersajak, tidak sedang menerbangkan kata-kata. Aku cuma takut. Cuma sedang ketakutan. Bahwa kau tak lagi mengenali mimpi-mimpiku. Ia seolah datang dari segeri sebrang, negeri yang tak berbayang. Dan aku tak berkuasa lagi atas mimpi-mimpiku.
Aku cemas bisa kehilangan kau. Aku cemas pada kecemasanku sendiri. Pun tak ada bisa aku katakan. Tidakkah kau cemas?
Untuk kesekian kalinya kuseru namamu. Kuseru jauh dari rasa rindu yang menggugu tertinggal.
Lalu di sinilah aku Banowati. Di tengah padang Kurusetra, terlempar ke sebuah malam tak bernama. Malam yang tak pernah kukenal sebelumnya. Memimpikan Astina yang jaya tanpa prahara, dipimpin raja bijaksana dan para punggawa yang setia menjaga cinta, yang tumbuh dari rahim-rahim tak berdosa. Esok, Banowati, aku ingin mewujudkan itu untukmu. Untukmu cintaku.
Kali ini, digerakkan angin, aku menarikan gugurnya daun-daun. Pada parak pagi esok hari, ketika kau buka jendela, akan kau dapati seikat kembang merah. Dariku, Banowati.
***
Aku tulis surat ini ketika langit kelabu di luar kemah itu entah bermakna apa, aku tak tahu. Yang jelas mimpi-mimpiku belakangan ini tidak terlalu menyenangkan untuk tidak dikatakan buruk atau menyeramkan.
Pertanyaan-pertanyaan bertebaran, tergeletak di atas meja: tak bergerak. Ya, telah kunantikan semacam hening melenting pagi ini atau semacam denting yang nyaring terpantul dari dinding tebing. Setelah tadi malam tak ada datang bahkan bulan atau bintang. Setelah kemarin pagi aku dengar Karna, panglima bala tentara Astina yang jaya telah binasa karena panah Arjuna. Setelah kemarin malam udara berbau dendam. Mimpi-mimpiku jadi lebam-lebam.
Toh aku selalu mengingatmu. Kau yang selalu menembang di pagi hari, dibalik kerai, mengintip keluar jendela, menembus kabut yang likat, kabut yang pupur yang masih mengendap di jalanan, menantikan semacam dering sapa pinggir pagi.
Sempat kuingat tawamu. Riang, saat Sarjakusuma dengan lasaknya mencabuti bunga-bunga rumput dan berteriak “mama, mama…” sehingga sebuah perasaan melengkapkan sebuah sisi ruang kosong sela batinmu. Kau meneleng dan tanpa sadar menjatuhkan beberapa anak rambut ke dahi dan pipimu. Kau tahu, waktu itu aku gemar memandang kedalam bola matamu dan mendapati diriku terkaca di dalamnya. Kau mengirimkan isyarat, semacam bahasa yang kita ciptakan berdua dan sesaat kusadari bahwa betapa lengkap hidupku hari itu.
Tapi toh, kegelisahanku terkaca dalam bulat bola matamu: aku yang lahir di sebuah siang di pinggiran kota yang tenang. Tumbuh dan tumbuh dalam udara yang beraroma kembang, dalam malam-malam berkabut tembang, dan hari-hari yang seolah tak pernah beranjak berlari. Waktu serasa melumut di sini.
Di sepanjang pematang habislah langkah-langkah kecilku dan jika senja datang bersama candikala aku berlari ketakutan menuju pelukan ibuku Gandari. Bidadari-bidadari tengah meniti pelangi, dan ini harus tetap menjadi misteri. Begitulah Banowati, pelan-pelan hidupku menjelma dongeng.
Sampai suatu saat ketika semuanya itu tiba-tiba berubah sengketa. Ketika ternyata ada banyak sesuatu lain di luar sana. Dan aku mendapati diriku sendirian, terlentang di tengah padang perburuan. Hari-hari telah berlari meninggalkan banyak janji.
Semua berujung pada satu pertanyaan: mengapa kami wangsa Bharata, harus saling binasa di Kurusetra?
Aku tak akan menyalahkan ayahku Destarata sebagai kakak yang buta sehingga harus mengalah memberikan mahkota Astina pada adiknya Pandu Dewanata yang lebih sempurna raga. Bagaimana juga mesti membenci Resi Durna dan Eyang Bisma sehingga kami para Kurawa mendapat perhatian yang tak seberapa sehingga sebagai kumpulan manusia liar, kami mencari kasih tulus pada benak yang ternyata penuh onak duri benci Paman Sengkuni.
Kalau memang begitu, kini persetan dengan apa yang bernama kenangan. Ia jahat, buktinya ia telah berkhianat. Lalu untuk apa kesepakatan-kesepakatan itu telah dibuat kalau lantas dibiarkan berkarat. Dan tahukah kau bahwa mimpi kita tengah sekarat. Mimpi-mimpi yang dibangun malam turun-temurun berabad lamanya.
Sang dalang toh juga lebih senang menembang ...surem-surem dewangkara kingkin sebagai lambang prahara kejahatan yang akan melanda dalam cerita ketika menancap wewayangan kami para Kurawa, di kayon simping kiri berhadapan dengan sisi kanan, sisi kebaikan yang diwakili Pandawa!
Maka Banowati, akhirnya kita mesti mengalah, mesti terus melangkah, berkejaran dengan diri kita sendiri dan berputar tak sampai-sampai. Karena akhirnya langit toh hanya satu. Musim tak bisa lebih. Tak banyak lagi yang bisa dikatakan. Sebab kalaupun esok kita memang harus enyah, aku tahu seekor burung akan menyongsong kita dari arah timur laut dan memuntahkan darah. Lalu kembali, hujan akan turun. Amis. Tahukah kau, orang-orang tua kita telah mengenal isyarat itu ketika mereka duduk tegak atas pelana untuk menaklukkan seluruh belantara. Mereka pun sebenarnya tergetar dan berkata ‘begitulah Kau akan mengakhiri kami’. Tapi mereka tetap pergi di bawah langit yang masih saja kelabu. Camar-camar berkejaran terbang dengan paruh gaduh dan terlihat separuh matahari, separuh ufuk yang hitam dari persembahan-persembahan demi kekuasaan.
Lihatlah. Seandainya kau ada di sini, dibingkai jendela merah kemah ini. Seperti gambar. Seperti gambar. Ya, semua telah menjadi sekedar gambar. Dan kali ini aku coba lagi membuka gambar itu. Gambarmu. Gambarku. Gambar Sarjakusuma.
Seandainya semalam bersih saja bulan, enteng dan segar. Seandainya awan sempat berkisar. Seandainya engkau utuh di tubuhku dan bisa kulihat sempurna liukmu di cermin itu dan seluruh angkasa lebih acuh kepada kita, sungguh mimpi akan cukup. Sebab kini hanya tinggal satu soal: bagaimana menunggu, tak ada sesal. Aku lelah Banowati, aku ingin mencium keningmu dalam-dalam.
Sekali lagi aku tak bisa pulang, tak menemu sebuah alasan selain: aku masih mencintaimu! Bagaimana kabar hatimu? Masihkah ia menjadi sebuah tempat yang aman untuk menyimpan kenangan?
***
Arjuna, di taman ini kita pernah berdekapan: kelopak rumpunan mawar di sudut taman itu berjatuhan satu satu. Mengapung dan berpendaran di air kolam. Dua ekor belibis di kolam berkelindan, berenangan di palung. Tapi tak banyak kupu-kupu untuk ditangkap.
Pagi ini hujan turun. Amis. Sama seperti pagi ketika Duryudana duduk tegak atas pelana menuju Kurusetra. Waktu itu, aku ingat, dengan suara bergetar, ia menembang …kariya mukti wong ayu, kakang pamit palastra. Suamiku pamit mati, Arjuna. Waktu itu di langit terlihat separuh matahari, separuh ufuk yang hitam dan seekor burung, camar-camar berkejaran terbang dengan paruh gaduh.
Dan saat ini aku adalah Banowati yang tengah memutar lagu cinta dalam volume rendah, tiduran di dalam kamar seraya mengkhayalkan sebuah peristiwa yang mungkin terjadi di luar sana. Jauh di luar sana. Di Kurusetra. Lagu cinta seorang istri yang akan kehilangan suami.
Ia suamiku, Arjuna. Sebagaimanapun itu. Masa lalu memang menjanjikan aku sebagai seorang mata-mata Pandawa yang menyerahkan tubuhnya pada Duryudana, pemimpin Kurawa. Tapi, sebagaimanapun waktu, hal itu pelan-pelan beranjak berlalu. Aku seorang wanita. Sebagai wanita mengartikan sebuah kuasa, sebuah penyerahan kesetiaan dan keikhlasan hati tanpa pura-pura. Dan untuk Sarjakusuma buah cintaku bersama Duryudana, aku tak hanya seorang ibu yang bisa memberi susu, tapi juga sebuah sarang untuk bersiap terbang bila nanti anakku beranjak dewasa: peran yang tak akan kutinggalkan bila aku akan kehilangan kalian para lelaki yang pernah singgah di hatiku. Dan itu pasti.
Kali ini, aku merindumu di relung balairung. Dikelilingi tiang-tiang pancang atap, burung-burung yang terbang menjerit, di antara potongan-potongan awan pada senja yang hampir tanggal.
Kurasakan tanda-tanda tamatnya wiracarita kita. Di mana harus kulepaskan dahaga ini? Hati manusia yang mana, dewa yang mana, yang akan memberikan padaku kedalaman sebuah danau? Aku telah mencarinya dalam liku-liku rahasia hatiku, lika-liku cintaku terhadapmu, juga kepada Duryudana. Kuulurkan tanganku. Lihat, kuulurkan tanganku tapi selalu kau yang kujumpai. Cuma kau menghadapi aku. Aku pada kau. Aku pada kalian.
Janji-janji kalian kali ini tak tertepati. Kau bilang Astina akan jaya bersama Pandawa, Arjuna. Rakyat dan semua akan bahagia. Tak ada rasa curiga, benci dan pertumpahan darah. Kau janjikan pula ketentraman rakyat, orang tua, balita dan wanita dalam lindungan para punggawa yang gagah perkasa, Duryudana.
Tapi kini, setelah Kurusetra tak lagi bercerita tentang perang dan pedang, kemenangan telah menjadikan sebuah kebebasan yang kebablasan, Arjuna. Para prajurit, punggawa dan kuda-kuda dengan congkak masuk gerbang kota. Mereka berteriak, beringas dengan mata nyalang dan jalang. Mereka menjadi penguasa baru, menjadi iblis yang bengis menguasai kota.
Semua adalah onggokan yang tak berguna, adalah barang rampasan yang bisa dicampakkan begitu saja. Bahkan juga para wanita.
Maka debu mengepul dari alun-alun, Duryudana. Kota porak poranda. Semua ingin menguasai sesuatu, memiliki sesuatu dan juga menyiksa, memperkosa sesuatu. Orang-orang berlarian tak karuan mencari selamat. Semua mata hendak menelan apa yang tampak. Bahkan kehormatan dan tubuh perempuan. Astina berubah menjadi Kurusetra yang kedua.
Dan aku seakan terhumbalang ke jalan seperti seekor bangau yang terbang terhuyung dengan sayap kuyup oleh hujan. Arjuna, Duryudana, aku lelah. Dalam kelelahan itu kukirim sebuah kartu pos bergambar gereja terbakar untukmu, untuk kalian: aku di ISJ. banyak perempuan yang ditusuk kemaluannya dengan linggis setelah terlebih dulu diperkosa. mereka berdatangan kemari dan mengadu. aku ingin punya lima anak. atau sebanyak-banyaknya. perempuan-perempuan itu tak akan lagi pernah punya anak. rahimnya rusak oleh linggis. kau dimana? kalian dimana?
Suara ilalang gemetaran. Dan malam mengigau dalam gerimis yang tak kelihatan. Kau pasti tak disitu bukan? Kau tak disitu.
Diluar langit kosong. Dan sepi.
Cerpen ini memenangkan Lomba Pekan Seni Mahasiswa (Peksiminas) 2008 di Universitas Jambi akhir bulan Juli dengan juri sastrawan Hamsad Rangkuti dan Joni Ariadinata
Kamis, 02 Oktober 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar