kembali, untuk sementara, inilah cangkeman saya:
Membaca Film Tari (Dancefilm)
Kajian sinema yang berbasis beragam ekspresi seni sesungguhnya bisa menjadi bidang baru yang memberi angin segar bagi peragaman studi ilmu budaya karena sinema menampung dan mewakili esensi beragam permasalahan sosial budaya.
Dengan budaya multimedia saat ini, film adalah suatu tempat yang mempertemukan pelbagai unsur, yang terkadang sama sekali tidak berhubungan dengan sinematografi, sehingga kemungkinan sajian menjadi semakin beragam. Terbuka kemungkinan sebuah simbiosis yang mengawinkan seni tari (seni pertunjukan) dalam media rekam film. Akan tersingkap sebuah pendekatan estetika sinema melalui disiplin koreografi tari, ideologi, ikonografi dan lainnya.
Media pada akhirnya telah merevolusi seni pertunjukan. Pertunjukan bersifat fana, hanya ada saat dipertunjukkan, lalu menghilang, menyisakan sekilas catatan, pun kalau ada. Dan tarian mungkin adalah pertunjukan yang paling fana. Seni pertunjukan akan musnah, tetapi naskah drama, partitur musik dan rancang panggungnya terus hidup. Hal yang diberikan media pada tari adalah kemampuan untuk merebut yang fana, mengekalkan saat dan menyimpannya untuk selamanya.
Tetapi tari hanya satu bagian dari pertunjukan. Bagaimana dengan detil lainnya: kostum, musik, ruang pertunjukan di prosenium, pendapa, makam, atau ritual suci/sekular sebagai bagian integral suatu pertunjukan; ritual latihan, pemanasan, berdandan dan mengenakan kostum, atau ritual meminta ijin kepada para dewa untuk menari, atau mempersembahkan tarian kepada para dewa? Siapakah para penari – lelaki, perempuan, tua, muda? Semua itu bisa dilakukan lewat film.
Dancefilm
Film adalah tindakan melihat (act of viewing) dunia seperti yang terlihat. Namun pada saat yang sama, orang harus belajar bagaimana melihat film. Orang perlu melihat film dan juga pertunjukan sebagai suatu kemampuan (faculty) yang mampu menjembatani dua cara melihat dunia, antara satu cara yang berdasar pada pemikiran-representasi dan cara lain yang bersandar pada praktik-pengalaman. Film bukan hanya sebagai representasi, tetapi juga pengalaman dan tindakan melihat. Kemampuan film untuk memilah adegan, memfokuskan, membesarkan, memperlambat, dan sebagainya membuat alih-ubah pengetahuan mengenai teknik pertunjukan tertentu menjadi lebih mudah dipelajari.
Kini telah lahir bentuk seni baru akibat peleburan kreatif antara tari dan media. Tarian yang khusus diperuntukkan bagi kamera tidak terbatasi oleh berbagai hal sebagaimana tarian langsung. Gravitasi dapat disangkal, konsep lambat, cepat, tegak, dan terbalik tidak lagi berlaku, penari dapat berbiak menjadi banyak, dan dapat menghilang dari pandangan. Waktu, ruang, dan gravitasi tidak lagi membelenggu khayal. Hal ini yang dikenal sebagai film tari (dancefilm)
Kehadiran film tari sudah diawali lebih dari satu dekade lalu. Saat itu dancefilm masih diperbincangkan di kalangan akademik yang memiliki program dancefilm studies. Menurut Rhoda Grauer, di Amerika Serikat media baru ini bahkan baru saja muncul pada dekade 1960-an. Dari pendapat ini, sebenarnya bisa dipahami bagaimana perjalanan film tari di dunia internasional masih anak bawang. Amerika sebagai salah satu perintis tari modern lewat nama-nama besar seperti Isadora Duncan pada 1920-an, baru meluncurkan sebuah festival film tari yang dinamai Dance on Camera pada tahun 1971. Namun, eksistensi festival ini baru “diakui” secara nasional dan internasional pada tahun 1999 (Utari, 2005).
Film tari bukan semata-mata film tentang tari. Ia tidak sekedar dokumentasi, tapi lebih dari itu, yakni sebuah format sinematografi yang dituturkan lewat kreasi dancing bodies, pola musikal, efek audio-visual dan teknologi secara proporsional. Dalam bagian tertentu, filmografi dalam film tari dapat dipresentasikan sebagai biografi tubuh.
Sebagai genre, film tari (Rhoda Grauer menyebutnya dancevideo) merupakan kreasi lengkap bentuk seni yang mengeksplorasi disiplin baru dan tidak semata-mata kemampuannya dalam mendokumentasikan apapun secara audio visual.
Menurut Erin Brannigan, kurator festival film tari ReelDance International Dance on Screen, disatu sisi dancefilm menegaskan eksistensi penari sebagai performer. Penonton mungkin tidak bisa ikut bergerak dengan penari, tetapi mereka bisa melihat dari dekat peluh, ekspresi wajah, tarikan nafas penari dengan lebih tajam dan cermat. Gerak tubuh penari menjadi optimal dengan juga akan mengedepankan penekanan terhadap kinestetika (estetika gerak) yang berujung pada sebuah komunikasi kinestetis. Langer menyebutnya sebagai citra dinamis, bahwa apa yang terpancar dari gerak tari lewat tubuh adalah suatu fenomena atau perwujudan dari laku yang secara tepat meyakinkan bagi persepsi audience, tidak melalui materi-materi fisik, maupun elemen-elemen seni pertunjukan (kostum, tata rias, tata cahaya, tata panggung dan lainnya).
Dilain pihak, film tari pada akhirnya melawan dominasi pendekatan dramatik yang linear serta dominasi hirarkis yang mendominasi produksi film. Pola semacam ini yang disebut sebagai pola screenplay dimana sebuah struktur film yang “horizontal” biasanya berafiliasi dengan drama (proporsi bahasa yang linear, alur tokoh, permasalahan serta penyelesaian), dan bagaimana hal ini menyusun bangunan narasi film bodies.
Dalam film tari, bila pola screenplay diterapkan melalui instrumen tubuh, ia akan menyesuaikan diri dengan pola ungkap bahasa. Ia bisa menjadi naratif, sekaligus sangat surealis atau bahkan absurd. Film tari justru mengembangkan struktur film “vertikal” yang mengedepankan momen dengan kualitas dan kedalaman artinya sehingga penonton merasakan sebuah sensasi puitik. Ia menawarkan sebuah perkembangan proporsi alur dramatik yang akan memperkaya sajian film, dengan membangun sebuah kesadaran film bodies yang tersusun dari aspek koreografis.
Opera Jawa
Contoh film tari adalah film Opera Jawa: Sinta Obong (OJ) karya Garin Nugroho. Dalam OJ, struktur dramatik setiap adegan dibagi menjadi drama biasa (dimulai dari realitas sehari-hari), perlahan menjadi koreografi gerak di lokasi sesungguhnya, lalu menjadi koreografi utuh dengan musik (berunsur bunyi dan gerak) yang terlibat dalam drama dan koreografi itu sendiri. Jalinan cerita yang menyusun film ini adalah bahasa komunikasi media screen. Ia menggariskan sebuah struktur alur yang berkait dengan plot cerita dalam pola screenplay.
Contoh kasus adalah scene instalasi tumpukan-tumpukan sabut kelapa membentuk lingkaran spiral sebagai setting. Ini adalah labirin yang dibuat untuk adegan menjaga Sinta. Sinta dengan beras di dahi sebagai bentuk ritual penyelamatan masuk dan mendapati labirin spiral yang tak berujung, lalu mendapati sebuah sosok yang serasa mengancamnya berupa juluran kukusan seperti geliat seekor naga yang menghentak diiringi nada riuh klintingan. Sinta tersudut, gelisah, berhasrat keluar, tapi terbendung tanpa daya. Ia terkulai di tumpukan sabut sementara "Rahwana" bersembunyi dalam kukusan (kerucut bambu) yang panjang dan menjalar layaknya liong, berusaha mendekatinya. Kukusan dengan klintingan itu seperti bergerak, bersuara sendiri.
Koreografi ini didasarkan pada konsep nilai bahwa kukusan adalah pembentuk saren (makanan yang berasal dari darah yang dibekukan) sebagai simbolisasi penguasaan mutlak terhadap yang lain. Kukusan juga membentuk sebuah moncong hewan melata selayak seekor naga rakus dan ganas. Dengan berkain batik dan bersandal kayu theklek, tampilan ini seperti sebuah pentas kesenian liong Jawa. Bentuk seperti ini menegaskan konsepsi mimicking (peniruan) yang terdapat pada seni pertunjukan.
Shot dari atas memperlihatkan kukusan itu memutar-mutar mengelilingi Sinta, menjadikan sebuah pola screenplay berupa dramatika cerita pada surealisme yang ditunjukkan dalam dancing bodies adegan tersebut. Kehadiran sosok kukusan yang bergerak, menari dalam adegan tersebut menegaskan karakter dancing bodies yang dibawa serta dalam kelanjutan pola screenplay (menunjuk pada struktur dramatik cerita) dalam scene dimaksud.
Erin Brannigan menegaskan bahwa film tari merupakan sebuah kreativitas artistik penari, koreografer, media dan seniman musik berkolaborasi dalam ranah kemungkinan artistik dalam mengungkap ruang fisik (arena pentas), mengolah setiap komponen ungkap mereka sendiri, tentu saja lewat cara dan perspektif masing-masing. Ia juga menegaskan bahwa “dance film…radical aesthetic roles for the human body in motion, placing it at the centre of their aesthetic and technological explorations”
Inilah pluralisme yang memunculkan perlintasan, perkawinan atau peleburan ruang dan media. Tak ada yang absolut karena semuanya terus bertumbuh, termasuk untuk film tari.
Penulis adalah Purnawan Andra,
penikmat film. Sedang mendalami kesenian pada Jurusan Tari, Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta
Jumat, 15 Agustus 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
1 komentar:
An opportunity to change your life
In this perfect DVD movie.
It explained the integrity of our amazing products
And the business opportunities arising from it.
7 Day Free Trial
http://freedom.ws/shiou
You can also use this video,
within 10 minutes immediately began to establish their own lifetime guaranteed income!
Posting Komentar